Dalam era Evidence-Based Pharmacy (Farmasi Berbasis Bukti), keputusan klinis, penyusunan pedoman terapi, hingga pengembangan kebijakan obat tidak lagi dapat mengandalkan intuisi atau tinjauan literatur naratif yang subjektif. Diperlukan suatu metode yang sistematis, transparan, dan dapat direplikasi untuk menyintesis ribuan artikel penelitian yang terbit setiap harinya. Di sinilah metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) mengambil peran sebagai standar emas.
Bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti farmasi, menguasai metode PRISMA bukan sekadar syarat untuk menerbitkan artikel di jurnal bereputasi tinggi. Ia merupakan fondasi untuk menghasilkan sintesis bukti yang valid, bebas dari bias, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Artikel ini mengulas secara komprehensif panduan melakukan studi literatur sistematis menggunakan metode PRISMA, ditinjau dari filosofi dasar, tahapan diagram alir, strategi pencarian, penilaian kualitas studi, serta peran institusi dalam memfasilitasi riset berbasis bukti. Informasi lebih lanjut mengenai dukungan metodologi penelitian dan publikasi ilmiah dapat diakses melalui Fakultas Farmasi Saraswati.
Memahami Metode PRISMA: Definisi dan Evolusi
Apa Itu PRISMA?
PRISMA adalah seperangkat panduan berbasis bukti yang dirancang untuk membantu penulis dalam melaporkan tinjauan sistematis (systematic reviews) dan meta-analisis secara transparan dan komprehensif. Awalnya dikembangkan pada tahun 2009 dan terus diperbarui (terkini PRISMA 2020), pedoman ini terdiri dari daftar periksa (checklist) 27 item dan diagram alir (flow diagram) empat fase.
Mengapa PRISMA Wajib dalam Riset Farmasi?
Tinjauan literatur tradisional (naratif) sering kali rentan terhadap bias seleksi, di mana penulis hanya memilih studi yang mendukung argumennya. PRISMA mengatasi masalah ini melalui:
✅ Transparansi Metodologi: Setiap langkah, dari pencarian database hingga kriteria inklusi, didokumentasikan sehingga peneliti lain dapat mereplikasi prosesnya.
✅ Minimasi Bias: Penggunaan kriteria inklusi-eksklusi yang ketat dan penilaian risiko bias (risk of bias) memastikan kualitas bukti yang disintesis.
✅ Standar Publikasi Global: Mayoritas jurnal farmasi dan medis bereputasi (terindeks Scopus Q1/Q2, PubMed) mewajibkan penggunaan pelaporan PRISMA untuk manuskrip tinjauan sistematis.
Anatomi Diagram Alir PRISMA: 4 Fase Kritis
Jantung dari metode PRISMA adalah diagram alir yang memvisualisasikan bagaimana peneliti menyaring ribuan artikel menjadi beberapa studi final yang akan dianalisis. Diagram ini terbagi dalam empat fase utama:
1. Identifikasi (Identification)
Tahap ini mencakup semua rekaman yang diidentifikasi dari berbagai sumber.
- Database: PubMed, Scopus, Web of Science, Embase, Cochrane Library.
- Sumber Lain: Registri uji klinis (ClinicalTrials.gov), referensi silang dari artikel terkait, atau literatur abu-abu (grey literature).
- Tindakan: Mencatat total artikel yang ditemukan dan menghapus duplikasi menggunakan reference manager (Mendeley, Zotero, EndNote).
2. Penyaringan (Screening)
Pada tahap ini, peneliti menyaring artikel berdasarkan judul dan abstrak.
- Kriteria: Apakah artikel ini relevan dengan pertanyaan penelitian (PICO)?
- Tindakan: Mengecualikan artikel yang jelas-jelas di luar topik (misal: studi pada hewan untuk pertanyaan klinis manusia, atau artikel editorial/review).
3. Kelayakan (Eligibility)
Artikel yang lolos penyaringan akan dibaca secara full-text (teks lengkap) untuk dinilai kelayakannya berdasarkan kriteria inklusi-eksklusi yang telah ditetapkan di protokol.
- Tindakan: Membaca metodologi dan hasil studi secara mendalam.
- Dokumentasi: Setiap artikel yang dieksklusi pada tahap ini wajib dicatat alasan spesifik eksklusinya (misal: “Desain studi bukan RCT”, “Dosis obat tidak sesuai”, “Data outcome tidak dilaporkan”).
4. Inklusi (Included)
Studi-studi yang memenuhi semua kriteria kelayakan akhirnya dimasukkan ke dalam sintesis kualitatif (tinjauan sistematis) dan/atau sintesis kuantitatif (meta-analisis).
Langkah Demi Langkah Melakukan Studi Literatur PRISMA
Langkah 1: Merumuskan Pertanyaan Penelitian (Framework PICO)
Sebelum mencari literatur, pastikan pertanyaan penelitian Anda terstruktur dengan baik menggunakan format PICO:
| Komponen | Deskripsi | Contoh dalam Farmasi |
|---|---|---|
| P (Population/Patient) | Populasi atau pasien yang diteliti | Pasien dewasa dengan Diabetes Melitus Tipe 2 |
| I (Intervention) | Intervensi atau paparan yang diberikan | Penggunaan obat Empagliflozin (SGLT2 inhibitor) |
| C (Comparison) | Pembanding (jika ada) | Penggunaan Metformin monoterapi atau Plasebo |
| O (Outcome) | Luaran klinis yang diukur | Penurunan kadar HbA1c dan insiden kejadian kardiovaskular |
Langkah 2: Menyusun Protokol dan Mendaftar ke PROSPERO
Sebelum memulai pencarian, susun protokol penelitian Anda dan daftarkan ke PROSPERO (database internasional untuk protokol tinjauan sistematis). Ini mencegah duplikasi penelitian dan meningkatkan kredibilitas manuskrip Anda saat disubmit ke jurnal.
Langkah 3: Merancang Strategi Pencarian (Search Strategy)
Strategi pencarian harus komprehensif menggunakan kombinasi keywords dan Medical Subject Headings (MeSH).
Contoh Search String di PubMed:
("Diabetes Mellitus, Type 2"[MeSH]) AND ("Sodium-Glucose Transporter 2 Inhibitors"[MeSH] OR empagliflozin[tiab]) AND ("Glycated Hemoglobin A"[MeSH] OR HbA1c[tiab]) AND (Randomized Controlled Trial[ptyp])
Langkah 4: Seleksi Studi oleh Minimal Dua Peneliti Independen
Untuk meminimalkan bias subjektif, proses penyaringan (judul/abstrak dan full-text) idealnya dilakukan oleh dua peneliti secara independen. Jika terjadi perbedaan pendapat mengenai kelayakan sebuah artikel, diskusikan atau libatkan peneliti ketiga sebagai penengah (adjudicator).
Langkah 5: Ekstraksi Data
Buat formulir ekstraksi data yang terstandar. Data yang biasanya diekstrak dalam riset farmasi meliputi:
- Karakteristik studi (penulis, tahun, negara, desain studi).
- Karakteristik populasi (usia, jenis kelamin, komorbiditas).
- Detail intervensi (dosis, rute pemberian, durasi terapi).
- Data outcome (mean difference, odds ratio, hazard ratio, interval kepercayaan 95%).
Langkah 6: Penilaian Kualitas dan Risiko Bias (Risk of Bias)
Tidak semua studi yang terbit memiliki metodologi yang sempurna. Anda wajib menilai kualitas metodologi setiap studi yang diinklusi menggunakan alat yang tervalidasi:
| Jenis Studi | Alat Penilaian Kualitas yang Direkomendasikan |
|---|---|
| Uji Klinis Acak (RCT) | Cochrane Risk of Bias Tool 2 (RoB 2) |
| Studi Observasional | Newcastle-Ottawa Scale (NOS) atau ROBINS-I |
| Studi Diagnostik | QUADAS-2 |
Kesalahan Umum dalam Pelaporan PRISMA dan Cara Menghindarinya
| Kesalahan Umum | Dampak pada Manuskrip | Strategi Pencegahan |
|---|---|---|
| Diagram alir tidak sinkron dengan teks | Reviewer jurnal akan langsung menegur inkonsistensi data. | Pastikan angka di setiap kotak diagram alir cocok dengan narasi di bagian Methods dan Results. |
| Tidak melaporkan alasan eksklusi full-text | Tinjauan dianggap tidak transparan dan berisiko bias seleksi. | Buat tabel terpisah yang merinci setiap artikel full-text yang dieksklusi beserta alasan spesifiknya. |
| Heterogenitas tinggi pada meta-analisis diabaikan | Kesimpulan meta-analisis menjadi tidak valid dan menyesatkan. | Lakukan uji heterogenitas (I²). Jika I² > 50%, gunakan random-effects model atau lakukan analisis subkelompok/sensitivitas. |
| Tidak menggunakan PRISMA Checklist | Manuskrip sering ditolak atau diminta revisi mayor oleh editor. | Unduh PRISMA 2020 Checklist, isi nomor halaman untuk setiap item, dan lampirkan sebagai supplementary file. |
Peran Fakultas Farmasi dalam Mendukung Riset Tinjauan Sistematis
Melakukan tinjauan sistematis yang compliant dengan standar PRISMA menuntut ketelitian tinggi, akses ke database berbayar, dan penguasaan perangkat lunak analisis data. Sebagai institusi yang berkomitmen pada keunggulan riset berbasis bukti, Fakultas Farmasi Universitas Saraswati menyediakan ekosistem yang mendukung mahasiswa dan dosen dalam menjalankan metodologi ini:
🔹 Akses Database Literatur Premium Langganan institusional ke PubMed Advance, Scopus, Web of Science, dan Cochrane Library, memastikan peneliti tidak melewatkan literatur penting akibat keterbatasan akses.
🔹 Workshop Metodologi Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis Pelatihan intensif mengenai penyusunan protokol PROSPERO, perancangan search string yang komprehensif, hingga penggunaan software meta-analisis seperti RevMan, CMA, atau R (meta package).
🔹 Klinik Konsultasi Metodologi dan Statistika Layanan pendampingan oleh dosen pakar metodologi penelitian dan statistika biomedik untuk membantu peneliti dalam melakukan ekstraksi data, penilaian risk of bias, dan interpretasi forest plot.
🔹 Fasilitasi Pendaftaran PROSPERO dan Publikasi Dukungan administratif dan pendanaan untuk pendaftaran protokol di PROSPERO, serta pendampingan proses proofreading dan submisi ke jurnal internasional bereputasi yang mewajibkan standar PRISMA.
🔹 Komunitas Riset Evidence-Based Pharmacy (EBP) Wadah kolaborasi lintas angkatan dan dosen untuk membentuk tim review yang solid, memungkinkan pembagian tugas seleksi studi dan ekstraksi data secara efisien.
Informasi lebih lanjut mengenai workshop metodologi, akses database, dan layanan konsultasi riset dapat diakses melalui laman resmi Fakultas Farmasi Saraswati.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah semua jenis tinjauan literatur harus menggunakan PRISMA?
Tidak. PRISMA secara spesifik dirancang untuk Systematic Reviews dan Meta-Analyses. Jika Anda menulis Scoping Review, Anda sebaiknya menggunakan pedoman PRISMA-ScR. Untuk Rapid Review, gunakan panduan khusus rapid review, meskipun prinsip transparansi PRISMA tetap dapat diadopsi.
Berapa jumlah minimal studi yang harus diinklusi untuk melakukan meta-analisis?
Secara teknis, meta-analisis bisa dilakukan dengan dua studi. Namun, secara statistik, melakukan meta-analisis dengan jumlah studi yang sangat sedikit (misal < 3-5) sering kali tidak disarankan karena kekuatan statistik untuk mendeteksi heterogenitas atau publication bias (melalui funnel plot) menjadi sangat rendah. Dalam kasus ini, tinjauan sistematis naratif seringkali lebih tepat.
Bagaimana jika saya tidak menemukan artikel yang memenuhi kriteria inklusi?
Ini adalah temuan yang valid dan tetap dapat dipublikasikan! Anda dapat menulis artikel dengan judul seperti “Effects of X on Y: A Systematic Review of the Absence of Evidence”. Jelaskan secara transparan dalam pembahasan mengapa literatur masih kosong (misal: kurangnya RCT pada populasi spesifik) dan rekomendasikan desain studi untuk penelitian primer di masa depan.
Apakah saya bisa melakukan tinjauan sistematis sendirian?
Bisa, namun sangat tidak disarankan. Pedoman Cochrane dan PRISMA merekomendasikan seleksi studi dan ekstraksi data dilakukan oleh minimal dua orang secara independen untuk mengurangi risiko kesalahan dan bias subjektif. Jika Anda benar-benar harus bekerja sendirian, Anda harus secara eksplisit menyatakan keterbatasan ini di bagian metodologi manuskrip.

Penutup: Transparansi adalah Kunci Kepercayaan Ilmiah
Metode PRISMA bukanlah sekadar birokrasi pelaporan yang menyulitkan. Ia adalah manifestasi dari integritas ilmiah. Dalam bidang farmasi, di mana sintesis bukti akan bermuara pada rekomendasi terapi yang memengaruhi nyawa pasien, transparansi dalam cara kita mencari, menyaring, dan menilai literatur adalah sebuah keharusan moral.
Bagi peneliti farmasi, menguasai PRISMA berarti Anda tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga kontributor aktif yang menghasilkan peta bukti yang dapat dipercaya oleh sesama klinisi, pembuat kebijakan, dan masyarakat.
Kepada mahasiswa dan rekan peneliti yang sedang menyusun tinjauan sistematis: nikmatilah prosesnya. Rasa lelah saat menyaring ratusan abstrak atau berdebat mengenai kelayakan sebuah studi full-text akan terbayar lunas ketika Anda melihat diagram alir PRISMA Anda tersusun rapi, dan bukti-bukti yang Anda sintesis akhirnya memberikan kepastian di tengah ketidakpastian klinis.
Prinsip penutup: Tinjauan sistematis yang baik tidak menyembunyikan keterbatasan literatur yang ada. Ia menyorotinya dengan cahaya transparansi, sehingga kita tahu persis di mana bukti itu kuat, dan di mana kita harus terus mencari.
